Sejarah Upacara Bendera HUT RI Pertama & Tentang Bapak Paskibraka

Sejarah Upacara di Indonesia

kompihub.com – Hussein Mutahar bukan cuma dikenal sebagai pencipta lagu-lagu nasional. Ia tokoh penting dalam sejarah upacara bendera untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI perdana pada 17 Agustus 1946. Tak hanya itu, predikat Bapak Paskibraka (Pasukan Pengibar Bendera Pusaka) layak pula disandang oleh H. Mutahar. Nama lengkapnya adalah Muhammad Husein bin Salim bin Ahmad bin Salim bin Ahmad al-Muthahar, namun biasa disebut dengan H. Mutahar saja.

Ia lahir pada 5 Agustus 1916 di Semarang, Jawa Tengah. Kukuh Pamuji dalam Komunikasi dan Edukasi di Museum Istana Kepresidenan Jakarta (2010) mengungkapkan, Mutahar dipanggil oleh Presiden Sukarno menjelang peringatan proklamasi RI pertama yang akan digelar pada 17 Agustus 1946. Bung Karno memberikan perintah kepada Mutahar untuk menyusun acara upacara, termasuk prosesi pengibaran bendera pusaka Sang Saka Merah Putih. Saat itu, Mutahar memang mengabdi di Sekretariat Negara sekaligus menjadi ajudan presiden.

Menurut sejarah, Upacara Bendera sudah dilakukan sejak 1292 dan dilakukan oleh tentara kerajaan Jayakatwang ketika berperang melawan kekuasaan Kertanegara dari Singosari. Jauh setelah itu, bendera merah putih akhirnya dikibarkan pertama kali di Eropa pada tahun 1922. Namun, bukan bendera merah yang seperti kita kenal sekarang, melainkan bendera merah putih dengan tanda banteng di tengah-tengahnya.

Bendera merah putih baru resmi dikibarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 dan diperkenalkan sebagai bendera kebangsaan Indonesia. Nah, baru kemudian upacara bendera untuk pertama kalinya digelar pada tanggal 17 Agustus 1945 yang sekaligus kita kenal sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Bung Karno memberikan perintah kepada Mutahar untuk menyusun acara upacara, termasuk prosesi pengibaran bendera pusaka Sang Saka Merah Putih. Saat itu, Mutahar memang mengabdi di Sekretariat Negara sekaligus menjadi ajudan presiden. Bukan Jakarta yang menjadi lokasi perayaan HUT RI perdana itu, melainkan Yogyakarta. Sejak awal 1946, atas tawaran Sultan Hamengkubuwana IX, ibu kota memang dipindahkan ke Yogyakarta untuk sementara karena Jakarta dalam situasi gawat setelah kembalinya Belanda ke Indonesia.

Sejarah Upacara Bendera 17 Agustus Pertama

Mendapat perintah khusus dari presiden, Mutahar tentunya tidak ingin upacara peringatan kemerdekaan yang bakal dikenang sepanjang masa itu berlangsung biasa-biasa saja. Terlebih, Bung Karno berpesan kepadanya untuk membuat acara yang meninggalkan kesan mendalam. Mutahar berpikir keras untuk mewujudkan upacara peringatan kemerdekaan RI seperti yang dimaksud Bung Karno.

Ia membayangkan, alangkah indahnya jika perwakilan pemuda dan pemudi dari seluruh wilayah Indonesia dilibatkan dalam upacara nanti. Namun, dalam situasi darurat kala itu, pemikiran tersebut cukup sulit untuk diwujudkan. Kening Mutahar berkerut lagi. Akhirnya, ia mendapat ide, setidaknya ada lima orang pemuda/pemudi yang akan menjadi petugas pengibar bendera pusaka. Tidak terlalu sukar menemukan anak-anak muda ini. Mengapa lima orang? Menurut Mutahar, itu melambangkan lima sila dasar negara yakni Pancasila. Lagi pula, semboyan yang tersemat di kaki burung Garuda Pancasila adalah Bhinneka Tunggal Ika yang bisa mewakili seluruh keragaman berbagai elemen yang menyusun bangsa Indonesia.